Muarasipongi, (Humas). Di tengah kesibukan akademik, lingkungan sekolah yang inspiratif dan indah dapat menjadi katalisator bagi kreativitas siswa. Hal inilah yang diwujudkan oleh Ahmad Fairozi Gusti Ruwindika, seorang staf pengajar di MTsN 5 Madina. Ia berhasil mengubah salah satu ruang kosong yang terbengkalai menjadi sebuah “Bengkel Galeri Seni” yang kini menjadi ikon keindahan baru di madrasah tersebut.

Ahmad Fairozi melihat potensi besar pada sebuah ruangan kosong yang selama ini hanya berfungsi sebagai gudang atau area yang tidak terpakai. Dengan visi yang kuat, ia mengajukan ide untuk menyulapnya menjadi pusat kreasi dan apresiasi seni siswa.

“Setiap siswa memiliki bakat seni, tapi mereka butuh tempat yang representatif untuk memamerkan karya mereka. Ruangan ini adalah kanvas kosong yang siap kita isi dengan kreativitas dan estetika,” ujar Ahmad Fairozi.

Berbekal dukungan dari kepala madrasah dan rekan guru, Ahmad Fairozi mulai merancang tata letak dan desain interior ruang tersebut. Filosofi desainnya sederhana namun berdampak: menciptakan suasana yang nyaman, modern, dan menonjolkan karya-karya siswa sebagai pusat perhatian.

Hasilnya, Bengkel Galeri Seni kini tampil sangat estetik. Dinding dicat dengan warna-warna netral yang menenangkan, dilengkapi dengan pencahayaan yang terencana untuk menyorot setiap detail karya seni. Ruangan tersebut dipenuhi dengan beragam koleksi seni dari siswa-siswi MTsN 5 Madina, mulai dari lukisan, kaligrafi, hingga kerajinan tangan.

“Desain yang diberikan oleh Bapak Ahmad Fairozi benar-benar menambah keindahan dan membuat madrasah kami terasa lebih hidup. Siswa jadi lebih bangga dengan hasil karya mereka dan termotivasi untuk terus berkreasi,” tutur Kepala MTsN 5 Madina.

Kehadiran galeri ini tidak hanya memperindah sekolah, tetapi juga memberikan dampak positif pada semangat belajar siswa. Mereka kini memiliki tempat yang layak untuk berdiskusi tentang seni dan mendapatkan inspirasi visual setiap hari.

Terobosan yang dilakukan Ahmad Fairozi Gusti Ruwindika membuktikan bahwa estetika dan pendidikan dapat berjalan beriringan. Dengan kreativitas dan inisiatif, ruang yang mati bisa diubah menjadi sumber inspirasi yang memberikan nilai tambah signifikan bagi seluruh komunitas sekolah. (AL)